MADIUN — Persaudaraan Setia Hati Terate (SH Terate) terus melakukan penguatan kualitas pembelajaran bela diri. Terbaru, Departemen Bela Diri Praktis SH Terate resmi menyerahkan Buku Materi Bela Diri Praktis dalam Rapat Kerja Pusat yang digelar Jumat (5/9/2026) di Gedung Graha Krida Budaya, Padepokan Agung SH Terate, Jalan Merak Nomor 17, Kota Madiun, Jawa Timur.

Buku bahan ajar tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Departemen Bela Diri Praktis SH Terate, Dr. Nur Hendra Dwi Gunawan Kasim, M.Kes., AIFO-K, kepada Ketua Umum SH Terate, Drs. H. R. Moerdjoko H.W. Penyerahan tersebut turut disaksikan Ketua Dewan Pusat SH Terate, Kangmas H. Issoebijantoro, S.H.

Buku tersebut disusun sebagai hanjar atau bahan ajar Bela Diri Praktis SH Terate. Kehadirannya diharapkan menjadi acuan pembelajaran yang lebih sistematis, terarah, dan terstandar bagi para pelatih maupun warga SH Terate di berbagai wilayah Indonesia.

Tidak hanya untuk tingkat nasional, hanjar ini juga dipersiapkan sebagai pedoman bagi SH Terate yang berkembang di berbagai negara. Dengan demikian, materi pembelajaran diharapkan dapat memiliki standar yang lebih seragam, namun tetap berlandaskan nilai-nilai luhur, ajaran, dan jati diri organisasi.

Ketua Departemen Bela Diri Praktis SH Terate, Dr. Nur Hendra Dwi Gunawan Kasim, mengatakan penyusunan buku tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat kompetensi para pelatih.

“Buku materi Bela Diri Praktis ini kami susun sebagai pedoman pembelajaran agar proses transfer ilmu dapat berjalan lebih sistematis, terarah, dan memiliki standar yang jelas. Kami ingin para pelatih memiliki acuan yang sama dalam menyampaikan materi kepada peserta didik,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan hanjar tidak sekadar menjadi buku bahan ajar, tetapi juga menjadi instrumen untuk menjaga kesinambungan keilmuan Bela Diri Praktis SH Terate.

“Hanjar ini bukan sekadar buku bahan ajar, tetapi merupakan bagian dari upaya kami menjaga kesinambungan keilmuan Bela Diri Praktis SH Terate. Harapannya, materi ini dapat digunakan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga menjadi pedoman bagi warga SH Terate di berbagai negara,” katanya.

Ia menambahkan, perkembangan zaman menuntut adanya peningkatan kualitas pembelajaran. Namun, inovasi tersebut tetap harus berpijak pada nilai persaudaraan dan ajaran luhur SH Terate.

“Ilmu harus terus berkembang, tetapi nilai-nilai yang menjadi fondasinya tetap kita jaga,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum SH Terate Drs. H. R. Moerdjoko H.W. menyambut positif hadirnya buku materi tersebut. Menurutnya, pedoman pembelajaran menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas dan keseragaman materi di tengah semakin luasnya perkembangan SH Terate.

“Buku materi Bela Diri Praktis ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di SH Terate. Dengan adanya pedoman yang tersusun secara sistematis, kita berharap para pelatih di seluruh Indonesia memiliki acuan yang sama dalam menyampaikan materi,” ujar Moerdjoko.

Ia menyebut, perkembangan SH Terate yang telah menjangkau berbagai daerah bahkan mancanegara membutuhkan pedoman yang mampu menjaga keseragaman materi tanpa menghilangkan karakter dan jati diri organisasi.

“SH Terate memiliki warga yang tersebar di berbagai daerah, bahkan telah berkembang hingga mancanegara. Karena itu, diperlukan sebuah pedoman yang mampu menjaga keseragaman materi pembelajaran, tanpa menghilangkan karakter, jati diri, dan nilai-nilai luhur yang menjadi dasar SH Terate,” jelasnya.

Moerdjoko menegaskan, pengembangan keilmuan bela diri tidak boleh berhenti sebagai tradisi, tetapi harus terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan zaman.

“Kita ingin ilmu bela diri yang diwariskan kepada generasi penerus tidak berhenti sebagai sebuah tradisi, tetapi terus berkembang dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Buku ini menjadi salah satu ikhtiar untuk memastikan proses transfer ilmu berlangsung dengan baik dari pelatih kepada generasi berikutnya,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa kemampuan bela diri harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter dan penguatan persaudaraan.

“Yang paling penting, pengembangan bela diri harus tetap berjalan seiring dengan penguatan budi pekerti dan persaudaraan. Karena bagi SH Terate, kemampuan bela diri bukan semata-mata tentang kekuatan fisik, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu mengendalikan diri, menghormati sesama, dan mengamalkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan,” tegas Moerdjoko.

Penyusunan hanjar ini menjadi bagian dari komitmen SH Terate untuk meningkatkan mutu pembelajaran, kompetensi pelatih, sekaligus menjaga kesinambungan transfer ilmu kepada generasi penerus.

SH Terate tidak hanya mempertahankan warisan keilmuan bela diri yang telah diwariskan dari generasi ke generasi, tetapi juga terus melakukan inovasi agar pembelajaran mampu berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Dari Padepokan Agung SH Terate di Madiun, langkah pengembangan keilmuan tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pembelajaran Bela Diri Praktis yang lebih terarah, baik di Indonesia maupun di berbagai penjuru dunia.

Ilmu terus diwariskan, kualitas terus ditingkatkan, persaudaraan tetap menjadi landasan.