NGAWI – SMAN 1 Kwadungan, Kabupaten Ngawi, mendapat anggaran revitalisasi senilai sekitar Rp1,7 miliar dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal PAUD dan Direktorat Sekolah Menengah Atas.
Kepala SMAN 1 Kwadungan, Fitriani Khanifa, menyebut bantuan tersebut menjadi momentum untuk memperbaiki kondisi bangunan sekolah yang selama bertahun-tahun mengalami kerusakan.
Namun di tengah masuknya anggaran revitalisasi, persoalan lain turut menjadi perhatian, yakni minimnya jumlah peserta didik. Pada tahun ajaran baru 2026, sekolah tersebut hanya mendapatkan dua rombongan belajar, meski fasilitas sekolah disebut mampu menampung hingga tiga kelas siswa baru.
“Sejak 2005 sekolah kita belum dapat revit. Bahkan sudah ganti dua kepala sekolah, tak kunjung diperbaiki. Jadi saya anggap saat ini dapat revit memang layak,” ujar Fitriani, Rabu (23/9/2026).
Menurut Fitriani, kondisi fisik bangunan yang mengalami kerusakan turut berpengaruh terhadap minat masyarakat menyekolahkan anaknya di SMAN 1 Kwadungan.
Ia menjelaskan, sejumlah bangunan sekolah sebelumnya terdampak banjir dan angin puting beliung.
“Kondisinya ambruk. Dulu sering kena banjir dan puting beliung, makanya sekolahnya rusak,” jelasnya.
Di sisi lain, Fitriani mengakui jumlah siswa yang minim berdampak terhadap dukungan pembiayaan operasional sekolah. Kondisi tersebut, menurutnya, telah disampaikan kepada pihak terkait.
“Siswa kita sedikit dibanding sekolah lain. Kita cuma dapat dua kelas tahun ini. Kalau tidak dapat bantuan revitalisasi, bagaimana kita mau bangun,” ungkap mantan guru SMAN 1 Kendal tersebut.
Dalam program revitalisasi ini, sekolah mendapatkan pembangunan 12 ruang kelas serta satu saluran air. Sementara kebutuhan fasilitas lain, seperti toilet, belum masuk prioritas pembangunan.
Fitriani menyebut sekolah sebelumnya juga telah mengajukan pembangunan toilet karena fasilitas tersebut dinilai masih dibutuhkan.
“Revitalisasi 12 ruang kelas dan pembangunan satu saluran air. Kalau toilet belum, padahal kita juga butuh,” pungkasnya.
Kondisi tersebut membuat revitalisasi SMAN 1 Kwadungan tidak hanya menjadi persoalan perbaikan fisik bangunan, tetapi juga menghadirkan tantangan bagi pihak sekolah untuk meningkatkan kembali daya tarik dan jumlah peserta didik.


Tinggalkan Balasan