NGAWI – Dugaan kelalaian pelayanan kembali mencoreng dunia kesehatan. Seorang anak berusia 12 tahun yang datang ke UGD Puskesmas Ngawi untuk berobat karena gangguan mata diduga justru dibekali obat tetes telinga. Beruntung, keluarga pasien teliti sehingga obat tersebut belum sempat digunakan.

Korban, AP (12), warga Desa Jururejo, Kecamatan Ngawi, datang bersama keluarganya untuk mendapatkan penanganan medis. Namun usai diperiksa, petugas memberikan obat yang pada kemasannya tertulis sebagai obat tetes telinga.

Merasa ada kejanggalan, Faizal (29), kakak korban, memilih tidak menggunakan obat tersebut dan kembali ke puskesmas sekitar satu jam kemudian untuk meminta penjelasan.

“Petugas malah mengatakan kandungan obatnya sama dan tetap bisa digunakan. Sebagai orang awam tentu kami bingung dan khawatir,” ujar Faizal kepada Terbitan.com, Senin (27/7/2026).

Tak puas dengan jawaban tersebut, Faizal akhirnya mengunggah pengalamannya ke media sosial hingga memicu perhatian publik. Tak lama kemudian, salah seorang petugas mendatangi rumah keluarga pasien.

Menurut Faizal, persoalan ini bukan sekadar salah memberikan obat, melainkan menyangkut ketelitian dan tanggung jawab tenaga kesehatan terhadap keselamatan pasien.

“Ini menyangkut organ vital. Kalau keluarga tidak teliti dan obat langsung dipakai, bagaimana risikonya? Jangan sampai kelalaian seperti ini membahayakan pasien lain,” tegasnya.

Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Puskesmas Ngawi, dr. Nina Wahyuning Sasi, membenarkan adanya laporan dan menyatakan petugas yang terlibat telah diberikan teguran.

“Petugas sudah kami tegur. Hari ini kami mengadakan pertemuan untuk membahas prosedur penanganan kejadian nyaris cedera,” ujarnya.

Meski demikian, Nina mengaku belum dapat memastikan penyebab dugaan kesalahan tersebut.

“Kalau masalah salah obat saya belum paham, mungkin karena kurang fokus atau faktor lain,” katanya.

Ia juga mengungkapkan Puskesmas Ngawi masih mengalami kekurangan enam tenaga kesehatan, sementara jumlah kunjungan pasien mencapai sekitar 1.400 orang setiap minggu. Kondisi itu disebut menjadi salah satu tantangan dalam pelayanan.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik sekaligus pengingat bahwa ketelitian dalam pemberian obat merupakan bagian mendasar dari keselamatan pasien. Dugaan kesalahan sekecil apa pun dapat berakibat fatal apabila tidak segera dicegah dan dievaluasi secara menyeluruh.